Kamis, 31 Desember 2015

Move On, Dong

Well...tahun 2015 menjadi tahun yang biasa aja bahkan salah satu tahun yang yeah-mengecewakan. Belum ada perubahan yang signifikan dalam hidup gue, masih gini-gini aja. Harusnya tahun 2015 gue udah bisa move on, tapi masih aja stuck dipermasalahan yang sama. Huft. 

Biasanya gue suka nulis di buku resolusi apa aja yang mau gue lakuin, gue ubah setiap tahun trus nanti pas ganti tahun (kalau ingat) gue liat semua resolusi itu apakah terlaksana semua, hampir semua, atau nggak sama sekali. Yang paling penting tiap tahun (kalau bisa) harus ada yang move on lah. Salah satu hal itu yang menjadi tolak ukur perjalanan hidup gue di tahun tersebut gimana. Bahagia, sedih, "rusak", dan sebagainya. Tapi kalau dipikir lagi itu kayak cuma sekadar tulisan doang, prakteknya mah sama sekali nggak terpaku sama resolusi yang gue tulis di buku, let it flow aja gitu. Malah gue seringnya lupa apa-apa saja resolusi yang gue tulis. Hahaha. 

Yah...semoga di tahun 2016 harus benar-benar bisa move on lah dari masalah "itu", bisa lebih baik dari tahun sebelumnya, dan lebih banyak bahagianya daripada sedihnya. Aamiin. 

Selasa, 08 Desember 2015

Pelangi

Langit berhenti menangis
Meninggalkan jejak di bumi
Membisikkan angin segar ke telinga
Dimanakah kau wahai pelangi?
Aku ingin bertatap muka denganmu
Aku rindu padamu...





Ibu Jari

Otak dirasuki setan
Pikiran seolah hilang
Ibu jari dilumuri amarah
Menyalakan api neraka
Hati menanam kebencian
Tumbuh subur dialiri darah
Memuntahkan hujatan dan cacian

Akankah hidup akan bahagia...
Menebar kebencian di dunia maya
Ibu jari pembawa dosa...

Jumat, 20 November 2015

Cinta itu...

Cinta itu mengajari bagaimana caranya percaya
Percaya bahwa kita bisa jujur
Bersyukur pada kehidupan
Mengerti gambaran lukisan
Menertawakan masalah
Menangisi kebahagiaan
Menggantikan hujan petir dengan pelangi

Dan akhirnya...
Bergandengan tangan menuju nirwana

Rabu, 18 November 2015

People's Behavior and Instagram Post

Sometimes (or most of the times) I define people by their instagram post. Yeah hahaha.

Kalau lagi nggak ada kerjaan atau susah tidur gue suka banget "berselancar" di instagram. Trus iseng menerka-nerka sifat orang di balik akun instagram yang lagi gue kepoin. Padahal sok tau aja belum tentu benar juga 😌. 

Gue lihatnya dari berbagai aspek. Menurut ilmu sok tau gue, penggunaan editing-nya kalau yang soft nggak banyak warna,  biasanya orangnya melankolis, sensitif. Kalau editing-nya full color, brightness, orangnya ceria, ekspresif, lagi bahagia. Kalau Black and White biasanya orangnya simpel nggak mau ribet, suka memendam kesedihan. Kalau editing-nya cenderung gelap kemungkinan sedang sedih, sadar atau nggak sadar meluapkannya lewat foto.

Dilihat juga feed instagram seseorang, kalau foto-foto di feed instagram-nya itu sama semua pola editing-nya, tema foto-fotonya sama (pemandangan, daily life, bunga, binatang, dsb) kemungkinan besar dia adalah orang yang percaya diri, konsisten nggak plin plan. Kalau editing-nya berbeda di tiap-tiap foto dan foto-fotonya random, apapun dijepret dan di-upload, biasanya cenderung plin plan, susah mengambil keputusan, gampang terpengaruh. 

Edit foto juga tergantung mood seseorang. Kalau lagi senang foto-fotonya akan terlihat terang, banyak permainan color, brightness, or, highlight

Lihat foto gue di bawah ini. Ini foto beberapa bulan lalu kalau nggak salah dan gue masih inget banget ini gue edit-nya ketika hati sedang "mendung" terus hasilnya gloomy gimana gitu. Padahal foto aslinya terang layaknya awan di siang hari yang cerah. Ini update-nya via hp jadi nggak ada foto aslinya, entah hilang atau ada di laptop. 


Foto yang di bawah ini before dan after-nya. Terlihat foto aslinya sudah bagus, terang, terus gue edit jadi lebih terang, buat awanya tambah lebih keluar warnanya lebih biru, di crop, permainan brightness, contrast, sama saturation (ini edit-nya pakai fitur edit yang ada di instagram). Terlihat dari hasil editing-nya ini ketika gue lagi senang. Hehe.
Before (This is Museum Fatahillah, located at Kota Tua, Jakarta)

After

Kalau ini yang gue bilang foto kalem, nggak terlalu terang seperti foto yang di atas (gue lupa ini editnya antara di vsco atau snapseed).
(Foto before-nya ada di laptop).


...dan ini secuil hasil editing foto-foto gue yang gue upload di instagram (instagram.com/arwindasz) *promo dikit* :p . Sekilas terlihat konsisten, padahal nggak. Hahaha. Apapun yang menurut gue bagus gue foto dan upload (termasuk foto gue kalau lagi "bagus". Hahaha). 


P.S: Percaya sama Tuhan jangan sama tulisan gue yang ini. Haha. And these photos were taken by canon 550d :D

Minggu, 01 November 2015

Hate Speech vs Free Speech

Belakangan ini di sosial media lagi heboh membahas tentang hate speech. Kapolri mengeluarkan surat edaran yang berisi tentang hate speech, SE/06/X/2015.

Sekilas tentang hate speech dari http://www.rappler.com/indonesia/111110-surat-edaran-hate-speech



Sekilas tentang free speech dari Wikipedia



Gue jujur mengapresiasi kapolri soal ini sih. Pembulian verbal baik secara langsung(tatap muka) atau tidak langsung(tulisan) sudah sangat meresahkan. Lama-lama bosan dan sebal juga ketika sedang asyik "berselancar" di dunia maya terus melihat kalimat-kalimat cacian, hinaan, bully, judging others like you really know about them di media sosial. Apalagi kolom komentar di instagram para artis. Ergh. Gue mending lihat ratusan akun "jualan" di kolom komentar daripada ratusan komentar saling menghina dan mencaci. Seringnya ya komentar saling hina dan caci itu akibat ulah satu atau lwbih yang jadi "kompor", seperti ingin menghasut yang membaca,  akhirnya yang lain ikut-ikutan mencaci padahal tidak tahu masalah yang sebenarnya apa. Seringnya juga apa yang dilontarkan itu sama sekali tidak benar, salah tanggap, sok tahu, dan jatuhnya fitnah. Hadeh. 
Ada pula kalimat "kalau nggak mau di bully jangan jadi artis". Artis juga manusia dan apapun pekerjaannya harusnya nggak ada pembulian sih. 
Ada pula yang menganggap apa yang dia lontarkan di dunia maya itu kritikan terhadap seseorang/organisasi padahal dia nggak sadar kalau apa yang dia lontarkan itu sebenarnya hate speech.
Well...artis juga manusia biasa sama seperti orang lain, yang membedakan hanya pekerjaannya saja. Tapi balik lagi ke diri artisnya masing-masing yah. Ada yang bodo amat-nggak peduli-nggak ditanggapi, ada yang ditanggapi setiap ada komentar jelek langsung dibalas entah klarifikasi atau membalas menggunakan kata-kata yang tidak pantas dilontarkan, ada pula yang 'katanya' bodo amat, tapi sering membicarakan (sebut saja) haters dan menanggapinya 😏.
Banyak yang gue lihat di sosial media orang-orang yang suka bully orang lain (bulliers) seperti merasa dapat kepuasan tersendiri bisa mem-bully orang yang tidak ia suka. Bahkan jika ada orang lain lagi yang sependapat dengan bulliers ini dan ikutan mem-bully, mereka terlihat (dari tulisannya) merasa senang, bangga, mempunyai "teman" yang sejenis, bahwa yang tidak menyukai orang ini bukan hanya dirinya, tapi banyak. Merasa dirinya paling benar.

"Some people cannot differentiate between free speech and hate speech." 
Iya banget. Banyak yang gue lihat ketika seseorang melontarkan kalimat-kalimat yang cenderung kasar, dia langsung berlindung dibalik kalimat "terserah gue dong, akun akun gue." or "ini dunia maya coy orang bebas dong mau komentar apa aja. Kenapa lo yang ribet." Bebas mengeluarkan pendapat katanya. Sebebas-bebasnya media sosial harus tahu batas mana yang harus/boleh dilakukan mana yang nggak. Kalau lo komen jelek di instagram orang ibarat rumah lo dimasuki orang yang nggak lo kenal terus maki-maki lo, ketika selesai maki-maki udah langsung keluar. Pasti kesal kan. Free speech, bebas mengutarakan pendapat, ataupun bisa juga mengkritik, asalkan menggunakan kata-kata yang baik, sopan, tanpa ada kata-kata yang dapat menyakiti orang lain.
Kadang tangan suka gatel sih pengen komentarin orang (sekarang mulut nggak perlu berbicara, cukup diwakili oleh ibu jari aja, yak. Haha). Apalagi kalau lihat orang yang gampang banget ngeluarin komentar-komentar jelek di sosial media rasanya pengen gue rukiyah biar setan-setan yang ada di tubuhnya keluar.
I'm still trying to not easily judge anyone tho. Especially, if him/her isn't close to me. Who am I to judge? Am I already better than them (that I judge)?

Always remember, "think before you speak." Hati-hati jangan sampai kata-kata jelek atau fitnah yang lo lontarkan untuk orang lain itu malah berbalik ke diri lo sendiri atau keluarga lo. Hiii serem. 

Sabtu, 31 Oktober 2015

Ke mana?

Ketika pagi tak lagi digemari
Perlahan ditinggalkan para penikmatnya
Hanya menyisakan sebuah kenyataan
Kenyataan bahwa kebahagianku menghilang entah ke mana


Kamis, 22 Oktober 2015

Katanya

Tidak menghargai orang lain katanya...
Tidak mengerti perasaan orang lain katanya...
Tidak menyadari kesalahan katanya...
Tidak tahu diri katanya...
Tidak bisa berubah (jadi lebih baik) katanya...
Katanya?...
Kata siapa?...
Kata setan yang menguasai pikiran, mata, dan hatimu.

Selasa, 15 September 2015

Pilihan

Terkadang kita memilih untuk berjalan di tempat daripada jalan maju ke depan bukan karena kita takut untuk lelah berjalan. Hanya saja kita takut untuk jatuh ke lubang yang dalam tidak bisa keluar lagi, jatuh menyebabkan luka yang susah hilang, dan juga takut tidak bisa melanjutkan perjalanan ataupun kembali lagi ke posisi awal kita melangkah.

Kamis, 10 September 2015

Ditemani Gelisah

Kegelisahan menemaniku
Menjadi sarapan setiap pagi
Menjadi air ketika aku mandi
Menjadi bayangan di setiap perjalananku
Datang ke mimpiku ketika tidur
Menempel di setiap inchi tubuhku

Dan aku bagaikan daun putri malu yang layu jika tersentuh

Bayangan

Bayangan itu menyapaku lagi
Kegelisahan langsung memelukku
Membangunkan rasa perih di dada

Tidakkah kau capek wahai bayangan?
Mengikutiku setiap hari
Berjalan-jalan mengitari otakku
Memunculkan pecahan-pecahan kaca yang sudah kubuang
Seakan bergabung menjadi satu gelas yang utuh kembali

Aku tidak ingin keutuhan
Biarlah pecah dan hilang selamanya

Rabu, 09 September 2015

We are Different

Kadang suka merasa kalau kita nge-treat seseorang seperti kita ingin di-treat seperti itu atau kebiasaan kita nge-treat orang seperti itu padahal nggak semua orang bisa di-treat seperti apa yang biasa kita lakukan ke orang lain.

Cara berpikir atau cara melakukan sesuatu hal setiap orang pasti beda-beda. Sekarang kebanyakan kalau ada yang beda sedikit langsung salah, ada yang mengkritik, bully atau nyinyir dan merasa paling benar 'menyuruh' ini itu.

       "Kok dia gitu sih? Salah tuh
         harusnya begini"

        "Jangan kayak gitu, harusnya 
          kayak gini"

        "Pantesan aja dia begitu(sesuatu
         yang negatif)"

        "Gue sih kalo jadi dia bakal
          ngelakuin ini deh"

     Dsb...

Tanpa sadar apa yang kita inginkan/suggest buat orang lakuin itu adalah sesuatu yang ingin kita/orang lain lakuin buat kita tapi nggak/belum bisa dilakuin. Padahal nggak semua hal itu harus atau akan sama seperti apa yang kita pikirin dan lakuin. Apa yang kita pikirin dan lakuin aja terkadang nggak sama seperti apa yang kita mau/atur, jadi nggak usah merasa paling benar dengan mengatur orang lain untuk menjadi apa yang kita mau. You know nothing about them. Mengurus hidup sendiri aja udah ribet, ini lagi ngurusin hidup orang yang bahkan mikirin kita aja nggak.

Jangan karena gue bisa masak daging sapi dan lo bisa masak sayur terus lo memaksa gue untuk bisa masak sayur juga sama seperti lo. Ya gue bisa masak sayur, tapi rasanya nggak mungkin bisa sama seperti yang lo masak.

Don't waste your time to think over about the difference.
....and I waste my time to write this. Lol. 

Rabu, 29 Juli 2015

Antara Twitter, Teman, dan Sifat Kita

     Gue belakangan ini belajar satu hal dari twitter (iya, twitter). Berteman dan sifat kita bisa terlihat dari siapa saja yang kita follow di twitter. Jika kita ingin menjadi orang yang lebih baik pasti kita akan mem-follow orang-orang yang twit-twitnya positif, berisi ilmu, motivasi, atau sekedar jokes agar terhibur. Tetapi jika kita mem-follow orang-orang yang salah maka kita (secara tidak langsung) bisa ikut salah. Misalkan kita mem-follow orang-orang yang sering mengeluh, marah-marah, menjelek-jelekkan sesorang di social media kita bisa ikut terbawa arus itu. Ikut mengeluh, marah-marah, atau menjelek-jelekkan seseorang yang padahal kita juga belum tentu tau masalah yang sebenarnya seperti apa.

     Bijaklah dalam berperilaku baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Jangan mudah terbawa arus yang salah. Jika kalian tidak baik ada baiknya jangan membuat orang lain ikut tidak baik seperti kalian. Karena terkadang (atau mungkin sering) orang-orang yang tidak baik itu (tanpa sadar atau sangat sadar) menggiring orang sekelilingnya untuk ikut menjadi tidak baik. Jadi kita sendiri harus pintar memilah mana yang baik mana yang tidak agar tidak salah arah. 

     Gue juga sebenarnya bukan orang yang baik. Gue masih dalam tahap belajar menjadi orang baik. Introspeksi lah diri sendiri apakah sudah baik atau tidak daripada sibuk mengoreksi kesalahan orang lain. 

     "Menjadi orang baik itu susah. Tetapi
      akan lebih susah lagi kalau kita
      menjadi orang yang tidak baik."   


Note: cuma postingan random karana kesal dengan orang-orang yang selalu mencari kesalahan, berpikiran jelek hingga menjelek-jelekkan orang lain yang bahkan kenal secara personal pun enggak. Dan kayaknya karena gue suka ((sok)) bijak, ((sok)) bener mikir begini, kadang gue tumpahkan di social media. Gue follow akun-akun yang setipe sama gue. Hahaha.

Jumat, 24 Juli 2015

Farid dan Ana

     Alkisah ada seorang perempuan yang baik menikah dengan seorang lelaki yang KATANYA tidak baik. Nama perempuan ini sebut saja Ana dan lelakinya bernama Farid. Banyak sekali orang-orang yang menyanjung kesempurnaan Ana ini. Entahlah kenapa banyak yang bilang (secara langsung/tidak) Ana sempurna bak bidadari. Padahal manusia tidak ada yang sempurna. Berbanding terbalik dengan suaminya, Farid, yang selalu terlihat salah dimata orang lain. Kalau kata Raisa mah serba salah. 

     Mulai dari keluarga, teman-teman, sahabat-sahabat, psikolog, bahkan yang tidak mengenal secara personal pun mengatakan Farid SANGAT BERUNTUNG mendapatkan Ana. Memang sih Ana itu baik banget, sabar banget, pintar dalam berbagai hal, cantik bukan hanya wajah tapi hatinya juga cantik. Kalau bagi laki-laki baik mah istri idaman banget lah Ana ini.

     Padahal Farid pun bisa dikategorikan sebagai suami idaman. Hatinya sangat baik bahkan terlalu baik, pekerja keras, bertanggung jawab, pintar juga meski bukan dalam hal akademis seperti Ana.

     Awalnya pun Ana tidak suka dengan Farid dan menganggap Farid tidak serius hanya ingin bermain-main dengannya. Begitupun dengan sahabat dan keluarga (selain Papa, Mama, dan Adik) yang tidak suka dengan Farid. Sikap dan sifat Farid yang KELIATANNYA jelek membuat mereka memandang sebelah mata Farid. Namun lama kelamaan setelah mereka mengenal Farid secara dekat dan mendalam barulah mereka yakin bahwa "He's the one" calon suami yang sangat cocok untuk Ana.

     Banyak yang tidak menyangka bahwa Ana mau menikahi seorang Farid yang KELIATANNYA dan KATANYA tidak baik...

        "Aku mah yakin dia orangnya baik,
         baik banget, bertanggung jawab,
         jujur." Jawaban Ana selalu seperti
         ini.

     Banyak juga yang tidak menyangka jika Farid menikahi Ana dengan waktu yang bisa dibilang cepat. Mungkin banyak orang yang tidak percaya Farid bakal menikah. Jika ditanya mengapa ia mantap menikahi Ana...

      "Ana itu orangnya cantik bukan
        hanya wajahnya, tapi hatinya juga
        dan dia wanita yang sederhana."
        
     Mereka pun resmi menikah dan menjalani hari-hari mereka sebagai pasangan suami istri dengan sangat bahagia. Kebahagian mereka pun bertambah dengan kehadiran buah cintanya jagoan kecil di hidup mereka yang diberi nama Rama.

      Jika dilihat dan ditelaah lebih dalam memang Farid ini lelaki yang sangat baik bahkan cenderung suami idaman. Dia sangat menghargai perempuan terlihat dari sikapnya terhadap mama dan adik-adiknya, perhatian terhadap istri, apapun ia lakukan agar istrinya bahagia selalu. Banyak lagi lah yang baik-baik dan lebih banyak lagi hal-hal baik yang tidak diketahui oleh orang lain.

     Meskipun begitu masih banyak omongan-omongan jelek orang-orang diluar sana yang meragukan cinta, kasih sayang, dan kesetiaan Farid terhadap Ana. Padahal terlihat sangat jelas sekali bahwa Farid sangat cinta terhadap Ana, begitu juga sebaliknya.

     Lama kelamaan omongan-omongan jelek pun merembet ke Ana. Ana beginilah begitulah. Ujung-ujungnya Farid juga yang disalahkan. Memang ya kalau seseorang sering berpikiran jelek akan melihat orang yang (keliatannya) jelek ya jelek saja, seperti buta akan sisi baiknya.

     Ibaratnya seperti durian yang luarnya berduri tajam dan baunya menyengat. Ada yang memilih untuk membelah dulu duriannya, melihat dan merasakan kenikmatannya ada juga yang sama sekali tidak mau menyentuh, mencium, bahkan melihat durian, ada pula yang membenci durian dan terus menerus membahas tentang kejelekan durian. Padahal tidak suka tapi dibahas terus menerus.

Kalian pilih yang mana?

     Sebelum men-judge jelek seseorang lebih baik kenali dulu orang itu dengan lebih baik. Jangan cuma KATANYA, KELIATANNYA, karena katanya dan keliatannya itu sama-sama berawalan huruf K *apaan sih gaje*

Fokus...fokus...

Karena katanya dan keliatannya itu sama-sama gak jelas, gak pasti. Perlu bukti pendukung yang kuat dan jelas sumbernya. Lebih baik dengar dan lihat sendiri dengan pikiran, mata, dan hati yang bersih 
Rhbaru menyimpulkan sesuatu.

    Kontrollah pikiran kita dengan baik agar terhindar dari pikiran yang jelek-jelek, cobalah berpikiran positif lihat segala sesuatu yang baik-baik saja yang negatifnya dibuang, simpel toh? :D daripada mengurusi rumah tangga orang mending mengurusi hidup sendiri atau rumah tangga sendiri, kan?:D  (apalagi yang udah berumah tangga).

     Seperti Ana dan Farid yang tidak peduli, menutup mata dan telinga mereka dari omongan-omongan jelek tentang mereka :P

        "Biarlah orang berkata apa yang
          penting kita bahagia."

        "Bahagia itu kita yang ciptain 
         sendiri, bukan orang lain. Jangan
         karena sibuk ngurusin urusan orang
         lain kita jadi lupa bahagia."



Minggu, 12 April 2015

Sahabatku, Gelisah

Hujan sepertinya selalu mengikutiku
Menjatuhkan setiap tetesan disekitarku
Setiap hari selalu menyuburkan rasa gelisahku
Semakin tinggi....
Semakin dalam...
Semakin kuat...

Gelisah kini menjadi sahabat karibku
Sudah menyatu di dalam tubuhku
Seperti tulang yang kokoh

Seandainya hujan menyuburkan kesabaranku atau kekuatanku, 
Bahagia pasti yang kurasa
Ketika aku tidak lagi merasa ingin terbang ketika diterpa angin
Ketika petir menyambar hidupku
Ketika angin melewati rongga dadaku, aku ingin tetap berjalan santai
 Berjalan dengan arah tujuan yang jelas
Tujuan yang tidak lagi samar

Pada kenyataannya hujan menyuburkan gelisahku
Semakin tinggi, semakin kuat, semakin dalam
Menjalar kemana-mana...