Minggu, 30 November 2014

My Opinion

Right! As always belum bisa tidur jam segini. Pikiran-pikiran nggak jelas, opini-opini sok tau gue mulai bermunculan. Haha. Here it is *monolog*
 
Nggak usahlah berubah hanya karena omongan orang yang jelek tentang lo biar lo nggak dipandang rendah. Ya kalo lo emang mau berubah itu karena kemauan lo sendiri atau juga karena sesuatu yang lo mau ubah itu ada dampak negatifnya ke orang lain. 

Kalau lo berubah karena "abis gue dibilang bla bla bla sama dia" itu kayak lo nyari jarum di tumpukan jerami, udah tau susah masih aja berusaha nyari. Susah karena lo fokus sama jarum yang harus ketemu, bukan proses mencari jarumnya. 

 

Sifat (yang keliatannya) aneh

Tulisan ini udah ngendep berapa lama ya di blog nggak di post-post. Maklum lah banyak yang ingin dibahas tapi bingung merangkai katanya gimana. Baru inget juga udah tulisan ini. Maafkan bundamu ini, nak. (Iya, blog ini anak gue). 

Curhat aja, yuk? *monolog*

Dalam keluarga gue termasuk yang cukup 'aneh'.

Gue bisa dibilang seorang yang introvert yang tinggal di lingkungan yang mostly extrovert. Cukup sulit memang. Ketika yang lain sibuk berbicara dengan yang lain, gue sibuk berbicara dengan hati dan pikiran. Gue sibuk dengan dunia gue sendiri. 

Setiap ada acara keluarga SELALU gue yang paling pendiam, tidak berbaur dengan keluarga yang lain. Keluarga pun bingung sama sifat gue ini. Pertanyaan-pertanyaan kayak:

"Kok diem aja sih? Kenapa?."
"Diem aja sih, win. Sini gabung."

"Ngobrol tuh sama sepupu-sepupu, keponakan-keponakan kamu, jangan diem aja."

Dan lain-lain. Kayak gue tuh aneh jarang ngomong. Apalagi kalau ada (orang yang nggak dikenal) yang nge-chat, sms, nelfon gue diemin, kalaupun gue respon paling cuma sedikit-dikit aja responya. And again gue dibilang "sombong". Hadeh.

Capek juga sama pertanyaan-pertanyaan semacam itu, tapi bingung juga kalau disuruh menjelaskan kenapa gue lebih banyak diam di tempat ramai. 

Kadang-kadang, gue merasa kesel sendiri karena nggak ada yang bisa mengerti sifat gue ini. Kenapa sihhhh.

"Yaelah. Yaudah sih emang kenapa diem, nggak nyusahin orang lain juga deh." Ucap gue dalam hati. 

Kadang-kadang, gue merasa kesel juga sama diri sendiri karena nggak bisa gampang berbaur dengan orang lain. Nggak bisa memulai obrolan atau sekedar jawab pertanyaan orang pun susah. Paling cuma jawab "iya", "nggak", "nggak tau", "mungkin", dan lain-lain yang jawabannya pendek. 

Untungnya gue jarang kumpul keluarga karea 99,99% keluarga gue tinggal di Makassar. Gue tinggal di Depok dan cuma ada satu kakek (omnya bokap) gue yang tinggal di daerah Kelapa Gading. Meskipun begitu tetap bikin kurang nyaman juga sih akibat sifat introvert gue ini. Ya lagi-lagi gue nggak begitu banyak omong juga kalau ketemu kakek gue itu.



Perfect

Tiba-tiba terlintas dipikiran gue....

"perfect itu nggak selalu dengan melakukan hal yang benar, dipuji orang banyak, tapi, perfect itu kalau kita melakukannya dengan senang hati tanpa peduli dengan hasil akhir dan apa yang orang lain katakan."