Kamis, 17 November 2016

OMG! I'm So Drama

I'm scrolling to my blog posts, then I realize that most of my posts are about sadness, madness, some like motivator, some like 'curhat', and mostly talk shit.  In some posts, seems like I'm a good person. Hmmm. But mostly, I feel like those posts are just my rant about so many things happened in my life or what I see with my heart. Wth. 

Once when I scroll down to these blog posts, I was like "OMG, I'm so drama". I look like a very sad person, a drama one. Sigh.

Libra can't stand drama, they say. Well, maybe yes maybe no. I'm sick of everyone drama. Sometimes, I'm sick of my drama too, but I can't live without it. It's like love-hate relationship. Hahaha. *face palm*

Yeah, basically, I couldn't really write a poem, talking something like motivator, etc. with a happy feeling. I just don't know what to write or talking about. Staring at my blog or note thinking for hours, still I have no words. But, when I'm feeling down the words are like burst out from my mind. Just open blog or note, let my feelings out through words. Then, voila! I have a new poem or story. 

I don't know why....

So, whoever read my-not-so-important-but-interesting posts I hope these posts in my blogspot are helpful and hope you guys don't throw the words up. Hahahahaha. *smirk* 

Minggu, 30 Oktober 2016

Masalah

Hmmm menyambung postingan sebelumnya tentang sisi lain hidup seseorang...

Gue merasa hidup dengan mempunyai berbagai masalah yang rumit atau at least tau dalam hidup banyak masalah-masalah yang rumit itu perlu. Karena kalau nggak ada masalah-masalah yang rumit kita nggak akan bisa belajar hidup dalam situasi yang sulit, nggak bisa belajar untuk menyelesaikan masalah, nggak bisa jadi lebih dewasa dalam bersikap, lebih baik dalam bersikap. Jadi tahu bahwa hidup di dunia ini nggak melulu bisa hanya ingin senang-senang saja, nggak bisa jalan lurus saja dengan mulus tanpa hambatan,tanpa jalan yang rusak, tanpa jalan yang licin, tanpa tikungan tajam, bahkan terkadang kita menemui jalan buntu.

Bagi sebagian, mungkin banyak orang dan gue sendiri pun pernah merasa capek, putus asa, tidak mau mempunyai masalah yang rumit. Masalah kecil saja kadang masih suka mengeluh, apalagi diberi masalah yang rumit.

Ketika gue sedang menghadapi masalah (yang menurut gue rumit), terkadang Allah seperti ingin menunjukkan ke gue (melalui orang lain) kalau masalah yang dihadapi orang itu JAUH lebih rumit dari masalah gue dan ya jadi malu sendiri.... Kayak "yaelah masalah segitu aja lo udah pusing. Tuh liat ada yang masalahnya lebih rumit dari lo, tapi dia santai-santai saja."
Gue malah jadi mikirin orang itu "kok dia bisa ya santai aja dengan masalah yang segitu rumitnya. Gue aja segini udah pusing. Apa dia beneran santai atau pura-pura santai ya, padahal kepikiran banget tapi dipendam sendiri." Hahahaha aneh memang ngapain mikirin orang lain sampe segitunya ya. Tapi itulah gue, bukan Winda namanya kalo nggak overthinking. Apapun dipikirin. Hvft.

Kalau sudah begitu biasanya gue penasaran gimana cara orang itu menangani setiap masalahnya. Gue pengen berbagi cerita sama dia, siapa tahu gue bisa belajar caranya mengatasi masalah dan mungkin bisa membantu meringkan masalahnya. Hanya saja orang yang gue pengen banget ajak sharing seperti itu susah--bahkan mungkin nggak bisa. Gue belum pernah ketemu orang itu, tapi entah kenapa gue merasa dia orang yang asyik untuk diajak sharing tentang kehidupan. Hehehe. Pengalaman hidupnya udah banyak banget, jadi penasaran. Semoga yah suatu saat bisa berbagi cerita dengan orang itu. Aamiin. 

Lah.... kenapa jadi ngomongin orang ini deh. Gue memang suka sharing tentang kehidupan sama siapapun. Hanya saja beberapa waktu itu sedang kepengen banget sharing dengan orang ini. Hehehe. Padahal masalah dia juga lagi banyak. Huhu. Yah semoga semua masalah orang ini bisa cepat diselesaikan maupun terselesaikan dengan baik. Aamiin. Kasihan lihatnya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Yah intinya...Cara mengatasi masalah setiap orang berbeda-beda. Menurut gue, masalah rumit atau enggaknya itu tergantung perspektif kita, bagaimana memandang masalah yang sedang kita hadapi itu. Pikiran juga sangat  memengaruhi sih. Semakin pikiran kita terbuka lebar, luas, semakin kita menyadari bahwa banyak masalah-masalah yang lebih rumit dari yang kita/dia alami. Tapi, semakin sempit pikiran kita, semakin kita pikir bahwa hanya kita/dia yang mengalami masalah paling rumit, paling menyedihkan. Bukan bermaksud membandingkan, tetapi agar lebih bersyukur dalam menjalani hidup. Hehehe.

Tapi, kalau bisa dan lebih baik sih menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan masalah. Tau hal-hal yang dapat menimbulkan masalah dari mana? Ya dari dirimu sendiri lah. Kalau kata pepatah "sedia payung sebelum hujan."

Minggu, 16 Oktober 2016

Berbagai Sisi

"Hidup itu ibarat batu yang mempunyai banyak sisi. Sekeras-kerasnya batu jika terkena hujan terus-menerus pasti akan rapuh juga."

Hidup seseorang itu nggak terlepas dari sisi baik dan sisi buruk. Bukan hanya itu saja sih, ada juga sisi sedih, sisi rapuh, dan sebagainya. Terkadang kita susah membedakan mana yang baik, mana yang buruk karena beberapa/banyak hal itu bisa terlihat berbeda tergantung bagaimana perspektif kita dan pikiran kita. Menurut kita baik belum tentu menurut orang baik, begitupun sebaliknya. Hal ini jadi salah satu pemicu keingintahuan orang lain akan hidup seseorang. 

Gue sendiri sebenarnya orang yang kepoan (kepengen tahu) tentang apapun yang menurut gue menarik. Hanya saja gue merasa lebih suka kepo tentang sisi buruk, sisi sedih, sisi rapuh seseorang dibanding sisi baiknya. Bukan...bukan berarti drama, ya, tapi lebih ke rasa ingin tahu saja dan bisa lihat ketiga sisi itu dari sisi yang berbeda, sisi baiknya. Karena banyak diantara orang-orang yang menutupi sisi sedihnya, sisi rapuhnya dengan senyuman, guyonan, canda tawa. Dan banyak juga orang lain yang tidak mau tahu bahkan tidak perduli tentang sisi itu. 

Gue malah senang kalau ada yang cerita dari sisi itu. Hahaha. Sisi baik mah nggak perlu diceritakan sih menurut gue, cukup dilihat dan dirasakan. Asek.

Mungkin gue suka mendengar cerita orang tentang ketiga sisi itu karena gue sendiri susah untuk menceritakan hal-hal ketika gue lagi sedih, rapuh, lagi ada masalah apapun. Gue lebih suka memendam sendiri dan itu sangat menyiksa diri sendiri. Nggak jarang in the end, cuma bisa nangis sendiri di kamar without no one knows that I'm dead inside...

...Nggak bisa punya tempat berbagi makanya gue ingin jadi tempat berbagi itu...

Banyak pelajaran baik yang bisa diambil dari ketiga sisi buruk, sedih, rapuh itu.  Bisa jadi kita jadi lebih kuat menyadari bahwa ada yang hidupnya lebih menyedihkan daripada kita, bisa juga kita belajar sabar, ikhlas dalam menghadapi setiap masalah, dan sebagainya. Gue juga belajar bahwa yang terlihat buruk nggak selamanya buruk. Kita bisa menemukan berlian di tumpukan sampah.  

Menceritakan sisi sedih, rapuh, bukan berarti drama kok. Hanya ingin didengarkan, hanya ingin mengeluarkan apa yang ingin dikeluarkan dari hati dan pikiran. Kepada orang yang tepat. Karena Hidup itu nggak selalu bahagia. Pasti ada rasa kesal, marah, sedih, dan lain-lain. But still, don't let those three sides of you ruin your life. Always try to be kind and happy! Good luck! 

Selasa, 09 Agustus 2016

Ow Ow Ow



Flowers are yellow
Me going mellow
Crying in my own shadow
Counting my sorrows
While trapping in the meadow

I only wish a happy tomorrow 
A full of beautiful rainbow
And sweet-chewy marshmallow

Jumat, 15 Juli 2016

Tempat...

Tempat yang seharusnya memberikan rasa aman perlahan menghilang
Hilang menjadi tempat yang memberikan rasa takut
Tempat yang memberikan rasa kecewa
Tempat yang menyuburkan rasa gelisah
Tempat yang membangkitkan segala amarah
Tempat yang membuat seseorang menjadi miskin

Tempat itu seharusnya berwarna kuning
Bukan biru, ungu, ataupun merah yang menghiasi sekelilingnya

Apakah tempat itu bisa (kembali) menjadi tempat untuk pulang?

Senin, 27 Juni 2016

Menghargai

Banyak orang menyapu bersih rasa menghargai
Pura-pura tidak tahu bahwa ia ada
Atau bahkan seumur hidup tidak pernah memiliki


Seharusnya kita menambahkan rasa menghargai dalam hidup
Dibumbui oleh toleransi
Dicampur bersama pikiran positif,
Kebahagiaan, rasa cinta, dan kasih sayang

Minggu, 26 Juni 2016

Takut

Aku takut...
Aku sedih...
Bagaimana jika orang yang kusayang pergi terlebih dahulu meninggalkanku

Bagaimana jika hal itu terjadi
Aku takut untuk membayangkannya
Mungkin saja aku belum siap
Entahlah...

Aku berpikir mungkin lebih baik aku yang pergi terlebih dahulu
Tapi aku takut...
Takut bertemu dengan penghuni alam bawah tanah
Takut tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya
Takut akan siksaannya

Senin, 20 Juni 2016

Salah

Ketika yang kita yakini benar ternyata menyakiti orang lain
Mungkin memang kita salah
Mungkin juga orang lain yang salah
Salah menempatkan diri
Salah dalam berpikir
Salah dalam bertindak
Salah ketika kita bilang mereka salah
Salah ketika mereka bilang kita salah

Logika

Aku mempunyai logika
Aku berpikir menggunakan logika
Logika ku berjalan dengan baik
Katanya.....

Apakah kamu yakin?

Logika bisa salah
Bisa saja logikamu termasuk sesat pikir
Menghancurkan akal sehatmu
Terpecah menjadi partikel-partikel negatif
Dan hanyut terbawa arus darah




Senin, 30 Mei 2016

Biar Allah yang Balas

Tiba-tiba gue kepikiran sesuatu, eh, banyak sebenarnya...bukan tiba-tiba kepikiran sih lebih tepatnya karena udah dari pagi mikir, cuma baru tiba-tiba kepikiran buat nulis aja.

Tadi gue iseng buka social media dan melihat 'curhatan' seseorang tentang fitnah dan suka menjelekkan orang lain. Intinya, dia nggak suka dan kepikiran soal itu. Juga dia jadi nggak respek dan nggak mau berteman(lagi) dengan orang yang seperti itu. Gue yakin pasti banyak orang di luar sana yang seperti ini.

Lalu, gue teringat salah satu artis terkenal yang sering di fitnah dan di jelek-jelekkan. Ketika ditanya wartawan responnya hanya "biar Allah yang balas." Bahkan orang yang dia anggap teman(sahabat(?)) pun beberapa kali menjelekkan artis ini. Ketika si artis ini upload foto bareng dengan si teman ini banyak komentar "udah menjelekkan lo masih aja mau foto bareng" ,"masih aja mau berteman", dll. Gue langsung mikir..."ini nih yang namanya orang baik beneran. Nggak mengaku dia baik, selalu sabar" (gue bingung ini artis stok sabarnya ada berapa banyak sih. Gue mau dong) hahaha. Keluarganya pun sabar. Mungkin ini kali ya yang namanya "sabar tidak ada batasnya."

Gue juga teringat salah satu orang terdekat gue yang (dulu) sering di fitnah juga, responnya ketika ditanya soal fitnahan "yaudahlah biarin aja dia mau ngomong apa." Bodo amat nggak peduli. Jadinya gue kayak 'terhipnotis' mengikuti sikapnya yang bodo amat nggak peduli itu. 

.....iya juga sih kalau mikirin fitnahan atau orang yang menjelekkan kita mah nggak ada habisnya. Apalagi kalau kepikiran ingin membalas. Blah. Masih banyak hal yang lebih penting untuk dipikirin dibanding mikirin hal-hal jelek begitu atau cara untuk membalas. Buang-buang waktu.

 Kalimat "biar Allah yang balas" menjadi sangat berarti karena setiap apapun yang kita kerjakan, baik ataupun buruk pasti ada balasannya. Satu jam kemudian, minggu depan, bulan depan, tahun depan, ataupun bertahun-tahun lagi. Balasan dari Allah SWT untuk hal yang buruk akan lebih menyiksa dibandingkan dengan balasan dari manusia :) 

Peran teman, sahabat, maupun keluarga pun bisa jadi sangat penting. Lebih baik bercerita dengan orang yang pikirannya positif, netral. Jadi, ketika kita curhat sedang kesal dengan orang lain, menjelek-jelekkan, bahkan sampai fitnah, orang yang kita ajak curhat akan melihat dari sisi positifnya "mungkin maksudnya begini" , "mungkin maksudnya begitu", tidak ikut menjelekkan orang yang kita bicarakan. Kita pun secara nggak sadar akan menerapkan itu di permasalahan-permasalahan selanjutnya. Sebaliknya, ketika kita curhat dengan orang yang-istilahnya-gampang-suudzon pasti secara nggak sadar kita akan terus-menerus menjelekkan orang lain karena kita 'didukung' oleh seseorang tempat kita curhat.

Kontrol pikiran juga sangat penting! Otak berada di bagian atas, so, semua pasti berawal dari otak *apasih*. Juga yang kita pikirkan bisa menjadi penyakit kalau tidak bisa dikontrol dengan baik karena otak mengontrol seluruh tubuh kita. 


"Train your mind to see the good in everything" - anonymous



Sekian dari saya. Hanya ingin menumpahkan apa yang sedang mengganggu pikiran. Dan seperti biasa cerita tengah malam. Hahaha.


Love,


Wind.

Selasa, 17 Mei 2016

Hari Buku

Liat di twitter banyak yang posting tentang #HariBuku jadi ingin bercerita sedikit tentang buku. Yah walaupun telat sehari(?) gapapa lah ya. Hehehe.

Sejak kecil gue banget baca buku(kecuali buku pelajaran ya). Haha. Ada satu buku gue lupa judulnya apa, tapi seinget gue tokoh-tokoh yang ada di buku cerita itu adalah tokoh-tokoh Disney seperti Mickey Mouse, Donald Duck, dsb. Itu buku hampir selalu gue bawa kemana-mana, gue baca berulang kali nggak bosen. Utungnya itu buku bukan lembaran buku biasa yang tipis gitu, tapi tebal kayak hardcover gitu masa.

Dulu juga pas SD sempat bikin perpustakaan ala-ala gitu di depan rumah. Ngumpulin novel, komik, majalah, apapun lah yang bisa dibaca, terus digelar pake alas kayak pedagang kali lima gitu. Hahahahaha. Sistemnya sewa 1500 bisa dibawa pulang atau baca ditempat bayar 500-1000 tergantung apa yang dibaca. Tapi ya namanya juga perpustakaan abal-abal dan bukunya juga nggak banyak jadi ya nggak rame yang dateng. Palingan yang dateng ya anak-anak semuruan kita aja atau malah kita(yang punya) baca sendiri akhirnya. 

Dipikir-pikir seru juga sih dulu jadi bisa baca buku baru punya teman-teman lain yang ikut "nyumbang" buat perpustakaan. Ehehe. Malah ada yang sampai sekarang masih tersimpan rapih di rumah karena pemiliknya lupa dan dia udah pindah rumah entah ke mana. Salah satu pengalaman masa kecil yang tak pernah terlupakan dan indah untuk diingat. 

Gue juga merasa dengan baca buku tuh bisa "melihat" dunia luar yang nggak bisa kita lihat dan nggak bisa kita jangkau. Banyak informasi-informasi yang bermanfaat, menambah pengetahuan, bisa bikin baper juga hahaha. Buku tuh jadi salah satu aspek terpenting dalam hidup. 

       "Buku adalah jendela dunia"


Selasa, 26 April 2016

I Cannot...

Kadang atau mungkin sering banget gue ingin bercerita. Ya literary bercerita semua hal yang gue ingin ceritakan, tanpa filter. Tapi, gue terlalu takut untuk bercerita se-'telanjang' itu ke orang lain, teman, maupun orang tua. Gue tidak se percaya diri itu. Gue takut teman gue akan membicarakan gue di belakang (ke teman-teman yang lain),, dicemooh, dijauhi, dan lain-lain. Bahkan gue takut menyebut beberapa teman gue sebagai sahabat karena gue merasa mereka belum tentu menganggap gue sebagai sahabat. Juga ke orang tua yang notabene sangat dekat, hidup dengan gue dari lahir. Sampai suatu hari mama pernah bilang ke gue:

"Wind, kamu kok nggak pernah curhat ke mama..."

Well, gue nggak bisa. Gue nggak bisa kayak anak-anak perempuan lain yang curhat ke mamanya layaknya seorang sahabat. Cerita soal pertemanan, sekolah, kuliah, masalah pribadi. Nggak bisa. Gue nggak merasa nyaman cerita ke mama gue sendiri. Padahal gue ingin banget cerita gitu, sharing, susah.

Gue lebih bisa cerita ke bapak. Gue bisa cerita sampe nangis-nangis. Yah, tapi balik lagi gue nggak seterbuka itu. Gue nggak bisa. Gue masih mem-filter hal-hal yang gue ceritakan ke bapak. Padahal banyakkk banget yang ingin gue ceritakan :) . 

Kadang gue menulis 'cerita' di blog seperti ini berharap suatu saat bapak atau mama gue baca terus jadi tahu apa yang gue rasakan tanpa harus gue ngomong. Hahahaha. Sebal juga sih sama sifat gue yang seperti ini. Rasanya kayak saking sebalnya sama diri sendiri jadi nggak bisa sebal sama orang lain karena merasa diri sendiri lebih menyebalkan dari orang lain. 

~~~~~~~

"Nggak bisa bukan berarti nggak mungkin. Nggak mungkin berarti nggak bisa."

Mungkin nanti disuatu hari yang cerah yang nggak bisa akan jadi bisa :)

Maybe yes? Maybe no? Maybe lline? #yha

Love,


Xx

Masa Lalu?

Holllaaa hiiiii...*pakai masker* *nyapu dan ngepel*

Lama tak bersua ya, blog-ku tercinta. 

Seperti biasa gue belum bisa tidur jam segini dan seperti biasa juga kepikiran banyakkkk hal. Hvft. Entah kenapa belakagan ini ketika gue bangun tidur di pagi hari pasti deh badan panas atau perasaan nggak enak gitu...dan juga beberapa kali tidur nggak nyenyak gitu kadang kebangun-kebangun terus atau mimpi nggak enak jadinya pengaruh ke perasaan pas bangun tidur. Gue stress kali ya (kapan sih lo nggak stress, Wind). Hehehehe. Udah baca doa-doa, dzikir kayak nggak mempan gitu kadang. Sedih deh. Mungkin mempan cuma gue yang nggak peka kali ya. 

Terlalu banyak yang dipikirkan, dari yang penting sampai nggak penting. Kadang lebih banyak mikirin yang nggak penting sehingga yang penting nggak dipikirkan atau nggak bisa dipikirkan marena terlalu banyak yang nggak pentingnya. Alhasil jadi suka nggak fokus gitu. Hiks. 

Kenangan buruk masa lalu apalagi yang menambah pikiran semakin rumit. Setiap hari, hampir setiap waktu juga terbayang-bayang. Rasanya itu kayak kalau likiran itu udah muncul langsung malas mengerjakan apapun, yang tadinya lagi mengerjakan sesuatu jadi langsung duduk diem atau tiduran. Saking sakitnya udah nggak bisa nangis. 

Beberapa waktu lalu lagi liat-liat folder di laptop terus menemukan file video tentang healing gitu. Untuk pikiran gitu lah biar fokus, menghilangkan trauma(?), gitu deh pokoknya dikasih seorang teman(dia dikasih oleh psikolog-nya). Gue coba kan ya, eh, malah berhari-hari terus menerus kepikiran sampai nangis. Gue bingung apakah gue yang salah mengikuti instruksinya atau memang video healing itu nggak mempan di gue. Katanya sih kalau belum mempan bisa diulang berkali-kali asal jangan keseringan, cuma gue masih belum berani lagi takut malah tambah kepikiran dan nangis. Hahaha. Karena banyak yang lebih penting harus dipikirin. Hehhe.

"Ketika keinginan kontras dengan pikiran, apakah harus berhenti, diperbaiki, atau dilanjutkan sebagaimana adanya dan tetap bertahan?"

Ciao!!!

Love,

Xx

Kamis, 11 Februari 2016

Tangisan Dari Langit

Gambaran hitamnya semesta terpampang jelas
Kuning hilang tak berbekas
Langit mulai menangisi keadaan
Menghujam siapapun yang tak bertuan
Tak perduli pagi, siang, sore, ataupun malam

Kamis, 28 Januari 2016

Mengakhiri Hidup

"Pernah nggak sih lo kepikiran buat bunuh diri?"

Pernah. Berkali-kali.

Gue tiba-tiba kepikiran (lagi) hal ini setelah melihat pertanyaan itu di twitter. Well...pertama kali gue kepikiran ingin bunuh diri itu pas SMP. Bayangin disaat anak masih SMP yang kebanyakan pikirannya cuma belajar, main, bersenang-senang, gue udah kepikiran untuk bunuh diri. Alasanya simpel karena gue males, capek hidup, dan merasa nggak berguna. Yha. Males karena hidup gue monoton, capek karena sering dibanding-bandingkan dengan orang lain. 

Lama kelamaan gue sadar bahwa membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain atau orang lain dengan orang lainnya itu sangat amat TIDAK BAIK buat psikologis sang anak. Gue jadi sering merasa minder, nggak percaya diri, bahkan jadi tertutup sama orang lain. 

Ketika SMP nggak jadi, semasa SMA bangkit lagi keinginan untuk bunuh diri itu. Kenapa? Ya alasannya sama seperti waktu SMP. Nggak jadi lagi dan sudah lumayan bisa berdamai dengan hidup. Mungkin karena punya teman-teman yang asik jadi hidup serasanya bahagia-bahagia saja.

Sudah mulai melupakan, eh, ketika kuliah malah bangkit lagi, bahkan perasaan ingin mengakhiri hidup lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Hvft. Apalagi gue tinggal sendiri dan (awalnya) nggak ada teman curhat. Karena sama orang tua gue nggak bisa benar-benar curhat bahkan bisa dibilang nggak bisa sama sekali curhat ke orang tua. 

Kenapa?

Ya gue sendiri juga bingung kenapa. Nggak bisa aja mengungkapkan apa yang sedang dialami. Gitu deh pokoknya.

Perasaan ingin mengakhiri hidup kayak petir tiba-tiba muncul trus hilang lagi. Begitu terus. Kadang kalau lagi pegang pisau "kalau gue besetin ini pisau ke urat nadi bakal mati nggak ya? Atau 'cuma' berakhir dirawat di rumah sakit."

Banyak orang menyepelekan. "Yaelah gitu doang" atau "masih banyak masalah yang lebih berat dari lo." Hal ini biasa saja kalau kita sendiri yang menyadari masalah kita nggak lebih berat dari masalah orang lain. Lain halnya kalau yang ngomong ini adalah orang lain. 

"You don't even know if you never experience it

Banyak yang nggak pernah merasakan tapi sok tahu merasa paling tahu dan paling benar. Kadang kita curhat cuma minta didengar, bukan restaurant yang minta kritik dan saran. Apalagi nggak diminta. 

Berkali-kali merasa ingin mengakhiri hidup dari SMP, tapi sampai sekarang gue masih hidup dan (semoga) sehat wal afiat. Padahal gue takut meninggal tapi sok-sokan mau bunuh diri 😌😌. Takut siksa kubur. Hahahahahahahahahaha. * alhamdulillah masih inget dosa ya gue* Suka membayangkan aja sih "kalau gue meninggal dalam keadaan lagi sendirian gimana ya?" Takut ketika meninggal gue lagi sendirian, nggak ada orang sama sekali. Berbanding terbalik dengan keseharian gue yang lebih suka menyendiri. 

Well...sampai saat ini gue masih harus banyak belajar untuk berdamai sama kehidupan, mengontrol apapun yang ada di hidup gue. Dan meskipun gue masih suka berpikir untuk bunuh diri, gue berharap kalau gue diberi umur yang panjang untuk membahagiakan diri sendiri dan banyak orang. Aamiin.