Jumat, 20 November 2015

Cinta itu...

Cinta itu mengajari bagaimana caranya percaya
Percaya bahwa kita bisa jujur
Bersyukur pada kehidupan
Mengerti gambaran lukisan
Menertawakan masalah
Menangisi kebahagiaan
Menggantikan hujan petir dengan pelangi

Dan akhirnya...
Bergandengan tangan menuju nirwana

Rabu, 18 November 2015

People's Behavior and Instagram Post

Sometimes (or most of the times) I define people by their instagram post. Yeah hahaha.

Kalau lagi nggak ada kerjaan atau susah tidur gue suka banget "berselancar" di instagram. Trus iseng menerka-nerka sifat orang di balik akun instagram yang lagi gue kepoin. Padahal sok tau aja belum tentu benar juga 😌. 

Gue lihatnya dari berbagai aspek. Menurut ilmu sok tau gue, penggunaan editing-nya kalau yang soft nggak banyak warna,  biasanya orangnya melankolis, sensitif. Kalau editing-nya full color, brightness, orangnya ceria, ekspresif, lagi bahagia. Kalau Black and White biasanya orangnya simpel nggak mau ribet, suka memendam kesedihan. Kalau editing-nya cenderung gelap kemungkinan sedang sedih, sadar atau nggak sadar meluapkannya lewat foto.

Dilihat juga feed instagram seseorang, kalau foto-foto di feed instagram-nya itu sama semua pola editing-nya, tema foto-fotonya sama (pemandangan, daily life, bunga, binatang, dsb) kemungkinan besar dia adalah orang yang percaya diri, konsisten nggak plin plan. Kalau editing-nya berbeda di tiap-tiap foto dan foto-fotonya random, apapun dijepret dan di-upload, biasanya cenderung plin plan, susah mengambil keputusan, gampang terpengaruh. 

Edit foto juga tergantung mood seseorang. Kalau lagi senang foto-fotonya akan terlihat terang, banyak permainan color, brightness, or, highlight

Lihat foto gue di bawah ini. Ini foto beberapa bulan lalu kalau nggak salah dan gue masih inget banget ini gue edit-nya ketika hati sedang "mendung" terus hasilnya gloomy gimana gitu. Padahal foto aslinya terang layaknya awan di siang hari yang cerah. Ini update-nya via hp jadi nggak ada foto aslinya, entah hilang atau ada di laptop. 


Foto yang di bawah ini before dan after-nya. Terlihat foto aslinya sudah bagus, terang, terus gue edit jadi lebih terang, buat awanya tambah lebih keluar warnanya lebih biru, di crop, permainan brightness, contrast, sama saturation (ini edit-nya pakai fitur edit yang ada di instagram). Terlihat dari hasil editing-nya ini ketika gue lagi senang. Hehe.
Before (This is Museum Fatahillah, located at Kota Tua, Jakarta)

After

Kalau ini yang gue bilang foto kalem, nggak terlalu terang seperti foto yang di atas (gue lupa ini editnya antara di vsco atau snapseed).
(Foto before-nya ada di laptop).


...dan ini secuil hasil editing foto-foto gue yang gue upload di instagram (instagram.com/arwindasz) *promo dikit* :p . Sekilas terlihat konsisten, padahal nggak. Hahaha. Apapun yang menurut gue bagus gue foto dan upload (termasuk foto gue kalau lagi "bagus". Hahaha). 


P.S: Percaya sama Tuhan jangan sama tulisan gue yang ini. Haha. And these photos were taken by canon 550d :D

Minggu, 01 November 2015

Hate Speech vs Free Speech

Belakangan ini di sosial media lagi heboh membahas tentang hate speech. Kapolri mengeluarkan surat edaran yang berisi tentang hate speech, SE/06/X/2015.

Sekilas tentang hate speech dari http://www.rappler.com/indonesia/111110-surat-edaran-hate-speech



Sekilas tentang free speech dari Wikipedia



Gue jujur mengapresiasi kapolri soal ini sih. Pembulian verbal baik secara langsung(tatap muka) atau tidak langsung(tulisan) sudah sangat meresahkan. Lama-lama bosan dan sebal juga ketika sedang asyik "berselancar" di dunia maya terus melihat kalimat-kalimat cacian, hinaan, bully, judging others like you really know about them di media sosial. Apalagi kolom komentar di instagram para artis. Ergh. Gue mending lihat ratusan akun "jualan" di kolom komentar daripada ratusan komentar saling menghina dan mencaci. Seringnya ya komentar saling hina dan caci itu akibat ulah satu atau lwbih yang jadi "kompor", seperti ingin menghasut yang membaca,  akhirnya yang lain ikut-ikutan mencaci padahal tidak tahu masalah yang sebenarnya apa. Seringnya juga apa yang dilontarkan itu sama sekali tidak benar, salah tanggap, sok tahu, dan jatuhnya fitnah. Hadeh. 
Ada pula kalimat "kalau nggak mau di bully jangan jadi artis". Artis juga manusia dan apapun pekerjaannya harusnya nggak ada pembulian sih. 
Ada pula yang menganggap apa yang dia lontarkan di dunia maya itu kritikan terhadap seseorang/organisasi padahal dia nggak sadar kalau apa yang dia lontarkan itu sebenarnya hate speech.
Well...artis juga manusia biasa sama seperti orang lain, yang membedakan hanya pekerjaannya saja. Tapi balik lagi ke diri artisnya masing-masing yah. Ada yang bodo amat-nggak peduli-nggak ditanggapi, ada yang ditanggapi setiap ada komentar jelek langsung dibalas entah klarifikasi atau membalas menggunakan kata-kata yang tidak pantas dilontarkan, ada pula yang 'katanya' bodo amat, tapi sering membicarakan (sebut saja) haters dan menanggapinya 😏.
Banyak yang gue lihat di sosial media orang-orang yang suka bully orang lain (bulliers) seperti merasa dapat kepuasan tersendiri bisa mem-bully orang yang tidak ia suka. Bahkan jika ada orang lain lagi yang sependapat dengan bulliers ini dan ikutan mem-bully, mereka terlihat (dari tulisannya) merasa senang, bangga, mempunyai "teman" yang sejenis, bahwa yang tidak menyukai orang ini bukan hanya dirinya, tapi banyak. Merasa dirinya paling benar.

"Some people cannot differentiate between free speech and hate speech." 
Iya banget. Banyak yang gue lihat ketika seseorang melontarkan kalimat-kalimat yang cenderung kasar, dia langsung berlindung dibalik kalimat "terserah gue dong, akun akun gue." or "ini dunia maya coy orang bebas dong mau komentar apa aja. Kenapa lo yang ribet." Bebas mengeluarkan pendapat katanya. Sebebas-bebasnya media sosial harus tahu batas mana yang harus/boleh dilakukan mana yang nggak. Kalau lo komen jelek di instagram orang ibarat rumah lo dimasuki orang yang nggak lo kenal terus maki-maki lo, ketika selesai maki-maki udah langsung keluar. Pasti kesal kan. Free speech, bebas mengutarakan pendapat, ataupun bisa juga mengkritik, asalkan menggunakan kata-kata yang baik, sopan, tanpa ada kata-kata yang dapat menyakiti orang lain.
Kadang tangan suka gatel sih pengen komentarin orang (sekarang mulut nggak perlu berbicara, cukup diwakili oleh ibu jari aja, yak. Haha). Apalagi kalau lihat orang yang gampang banget ngeluarin komentar-komentar jelek di sosial media rasanya pengen gue rukiyah biar setan-setan yang ada di tubuhnya keluar.
I'm still trying to not easily judge anyone tho. Especially, if him/her isn't close to me. Who am I to judge? Am I already better than them (that I judge)?

Always remember, "think before you speak." Hati-hati jangan sampai kata-kata jelek atau fitnah yang lo lontarkan untuk orang lain itu malah berbalik ke diri lo sendiri atau keluarga lo. Hiii serem.