Senin, 30 Mei 2016

Biar Allah yang Balas

Tiba-tiba gue kepikiran sesuatu, eh, banyak sebenarnya...bukan tiba-tiba kepikiran sih lebih tepatnya karena udah dari pagi mikir, cuma baru tiba-tiba kepikiran buat nulis aja.

Tadi gue iseng buka social media dan melihat 'curhatan' seseorang tentang fitnah dan suka menjelekkan orang lain. Intinya, dia nggak suka dan kepikiran soal itu. Juga dia jadi nggak respek dan nggak mau berteman(lagi) dengan orang yang seperti itu. Gue yakin pasti banyak orang di luar sana yang seperti ini.

Lalu, gue teringat salah satu artis terkenal yang sering di fitnah dan di jelek-jelekkan. Ketika ditanya wartawan responnya hanya "biar Allah yang balas." Bahkan orang yang dia anggap teman(sahabat(?)) pun beberapa kali menjelekkan artis ini. Ketika si artis ini upload foto bareng dengan si teman ini banyak komentar "udah menjelekkan lo masih aja mau foto bareng" ,"masih aja mau berteman", dll. Gue langsung mikir..."ini nih yang namanya orang baik beneran. Nggak mengaku dia baik, selalu sabar" (gue bingung ini artis stok sabarnya ada berapa banyak sih. Gue mau dong) hahaha. Keluarganya pun sabar. Mungkin ini kali ya yang namanya "sabar tidak ada batasnya."

Gue juga teringat salah satu orang terdekat gue yang (dulu) sering di fitnah juga, responnya ketika ditanya soal fitnahan "yaudahlah biarin aja dia mau ngomong apa." Bodo amat nggak peduli. Jadinya gue kayak 'terhipnotis' mengikuti sikapnya yang bodo amat nggak peduli itu. 

.....iya juga sih kalau mikirin fitnahan atau orang yang menjelekkan kita mah nggak ada habisnya. Apalagi kalau kepikiran ingin membalas. Blah. Masih banyak hal yang lebih penting untuk dipikirin dibanding mikirin hal-hal jelek begitu atau cara untuk membalas. Buang-buang waktu.

 Kalimat "biar Allah yang balas" menjadi sangat berarti karena setiap apapun yang kita kerjakan, baik ataupun buruk pasti ada balasannya. Satu jam kemudian, minggu depan, bulan depan, tahun depan, ataupun bertahun-tahun lagi. Balasan dari Allah SWT untuk hal yang buruk akan lebih menyiksa dibandingkan dengan balasan dari manusia :) 

Peran teman, sahabat, maupun keluarga pun bisa jadi sangat penting. Lebih baik bercerita dengan orang yang pikirannya positif, netral. Jadi, ketika kita curhat sedang kesal dengan orang lain, menjelek-jelekkan, bahkan sampai fitnah, orang yang kita ajak curhat akan melihat dari sisi positifnya "mungkin maksudnya begini" , "mungkin maksudnya begitu", tidak ikut menjelekkan orang yang kita bicarakan. Kita pun secara nggak sadar akan menerapkan itu di permasalahan-permasalahan selanjutnya. Sebaliknya, ketika kita curhat dengan orang yang-istilahnya-gampang-suudzon pasti secara nggak sadar kita akan terus-menerus menjelekkan orang lain karena kita 'didukung' oleh seseorang tempat kita curhat.

Kontrol pikiran juga sangat penting! Otak berada di bagian atas, so, semua pasti berawal dari otak *apasih*. Juga yang kita pikirkan bisa menjadi penyakit kalau tidak bisa dikontrol dengan baik karena otak mengontrol seluruh tubuh kita. 


"Train your mind to see the good in everything" - anonymous



Sekian dari saya. Hanya ingin menumpahkan apa yang sedang mengganggu pikiran. Dan seperti biasa cerita tengah malam. Hahaha.


Love,


Wind.

Selasa, 17 Mei 2016

Hari Buku

Liat di twitter banyak yang posting tentang #HariBuku jadi ingin bercerita sedikit tentang buku. Yah walaupun telat sehari(?) gapapa lah ya. Hehehe.

Sejak kecil gue banget baca buku(kecuali buku pelajaran ya). Haha. Ada satu buku gue lupa judulnya apa, tapi seinget gue tokoh-tokoh yang ada di buku cerita itu adalah tokoh-tokoh Disney seperti Mickey Mouse, Donald Duck, dsb. Itu buku hampir selalu gue bawa kemana-mana, gue baca berulang kali nggak bosen. Utungnya itu buku bukan lembaran buku biasa yang tipis gitu, tapi tebal kayak hardcover gitu masa.

Dulu juga pas SD sempat bikin perpustakaan ala-ala gitu di depan rumah. Ngumpulin novel, komik, majalah, apapun lah yang bisa dibaca, terus digelar pake alas kayak pedagang kali lima gitu. Hahahahaha. Sistemnya sewa 1500 bisa dibawa pulang atau baca ditempat bayar 500-1000 tergantung apa yang dibaca. Tapi ya namanya juga perpustakaan abal-abal dan bukunya juga nggak banyak jadi ya nggak rame yang dateng. Palingan yang dateng ya anak-anak semuruan kita aja atau malah kita(yang punya) baca sendiri akhirnya. 

Dipikir-pikir seru juga sih dulu jadi bisa baca buku baru punya teman-teman lain yang ikut "nyumbang" buat perpustakaan. Ehehe. Malah ada yang sampai sekarang masih tersimpan rapih di rumah karena pemiliknya lupa dan dia udah pindah rumah entah ke mana. Salah satu pengalaman masa kecil yang tak pernah terlupakan dan indah untuk diingat. 

Gue juga merasa dengan baca buku tuh bisa "melihat" dunia luar yang nggak bisa kita lihat dan nggak bisa kita jangkau. Banyak informasi-informasi yang bermanfaat, menambah pengetahuan, bisa bikin baper juga hahaha. Buku tuh jadi salah satu aspek terpenting dalam hidup. 

       "Buku adalah jendela dunia"