Rabu, 29 Juli 2015

Antara Twitter, Teman, dan Sifat Kita

     Gue belakangan ini belajar satu hal dari twitter (iya, twitter). Berteman dan sifat kita bisa terlihat dari siapa saja yang kita follow di twitter. Jika kita ingin menjadi orang yang lebih baik pasti kita akan mem-follow orang-orang yang twit-twitnya positif, berisi ilmu, motivasi, atau sekedar jokes agar terhibur. Tetapi jika kita mem-follow orang-orang yang salah maka kita (secara tidak langsung) bisa ikut salah. Misalkan kita mem-follow orang-orang yang sering mengeluh, marah-marah, menjelek-jelekkan sesorang di social media kita bisa ikut terbawa arus itu. Ikut mengeluh, marah-marah, atau menjelek-jelekkan seseorang yang padahal kita juga belum tentu tau masalah yang sebenarnya seperti apa.

     Bijaklah dalam berperilaku baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Jangan mudah terbawa arus yang salah. Jika kalian tidak baik ada baiknya jangan membuat orang lain ikut tidak baik seperti kalian. Karena terkadang (atau mungkin sering) orang-orang yang tidak baik itu (tanpa sadar atau sangat sadar) menggiring orang sekelilingnya untuk ikut menjadi tidak baik. Jadi kita sendiri harus pintar memilah mana yang baik mana yang tidak agar tidak salah arah. 

     Gue juga sebenarnya bukan orang yang baik. Gue masih dalam tahap belajar menjadi orang baik. Introspeksi lah diri sendiri apakah sudah baik atau tidak daripada sibuk mengoreksi kesalahan orang lain. 

     "Menjadi orang baik itu susah. Tetapi
      akan lebih susah lagi kalau kita
      menjadi orang yang tidak baik."   


Note: cuma postingan random karana kesal dengan orang-orang yang selalu mencari kesalahan, berpikiran jelek hingga menjelek-jelekkan orang lain yang bahkan kenal secara personal pun enggak. Dan kayaknya karena gue suka ((sok)) bijak, ((sok)) bener mikir begini, kadang gue tumpahkan di social media. Gue follow akun-akun yang setipe sama gue. Hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar